JAKARTA - Perusahaan tambang makin agresif memprotes kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi dengan pemberlakuan bea keluar (BK) progresif. Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan, di antara sekian banyak perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia, hanya Freeport dan Newmont yang terus menyampaikan keberatan atas aturan BK ekspor tambang. "Setiap hari kami diprotes," ujarnya kemarin (29/1). Sebagaimana diwartakan, mulai 12 Januari, pemerintah memberlakukan BK progresif untuk ekspor hasil tambang dengan kadar pemurnian tertentu. Aturan itu sebenarnya lebih longgar dibanding rencana awal yang melarang semua jenis ekspor hasil tambang yang belum dimurnikan. Kementerian Keuangan menetapkan BK progresif, yakni mulai 20 persen hingga 60 persen, pada 2016. Menurut dia, terlepas dari adanya protes perusahaan tambang, pemerintah akan mengevaluasi efektivitas aturan BK progresif tersebut. Namun, hingga evaluasi itu selesai, pemerintah akan tetap memberlakukan aturan BK untuk ekspor tambang. "Jadi, aturan harus tetap diimplementasikan," terangnya. Sebelumnya, setelah bertemu Menteri ESDM Jero Wacik, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa banyak pelaku usaha tambang yang mempertanyakan dasar hukum aturan BK itu. Sebab, aturan tersebut tidak tercantum dalam peraturan pemerintah (PP) sebagai acuan kebijakan ekspor tambang. "Karena itu, kami bahas. Nanti dibahas lagi dengan menteri keuangan," ujarnya. Hatta menerangkan, pembahasan mengenai aturan BK ekspor tambang itu akan dibawa ke level wakil presiden untuk mendengar penjelasan dari semua menteri terkait. Yakni, baik Menteri Keuangan Chatib Basri maupun menteri ESDM. "Hal tersebut penting agar semua pihak dapat mengerti aturan itu," tegasnya. Upaya protes raksasa tambang Freeport Indonesia, tampaknya, dilakukan dengan sangat serius. Hal tersebut terlihat dari kedatangan CEO Freeport McMoran Richard C. Adkerson yang merupakan induk Freeport Indonesia di Amerika Serikat (AS). Orang nomor satu Freeport itu melakukan roadshow untuk melobi pemerintah Indonesia agar memberikan kelonggaran dalam menerapkan ketentuan BK ekspor. Setelah bertemu Menteri Perindustrian M. S. Hidayat, Adkerson bersama Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto langsung mendatangi kantor Chatib kemarin petang. Sayangnya, setelah pertemuan tadi malam, Adkerson dan Rozik enggan berbicara banyak terkait dengan hasil pertemuannya dengan Chatib. Dia menyebut, materi pembicaraan sama dengan yang disampaikan kepada M. S. Hidayat. Yakni, seputar permintaan keringanan aturan BK ekspor tambang. "Pertemuan tadi berlangsung dengan baik," ujarnya singkat. (owi/c18/oki)
DEDDYCorbuzier datang dengan menggunakan kursi roda ketika menghadiri konferensi pers soal penayangan kembali program Hitam Putih. Deddy baru saja mengalami gangguan kesehatan. Duda satu anak itu sempat masuk ICU Rumah Sakit International Bintaro karena saraf tulang ekornya terjepit. Deddy menuturkan, itu semua merupakan efek dari kecelakaan yang dialami lima tahun lalu. Ketika sedang berjalan kaki, dia ditabrak mobil hingga terlempar tiga kali, kemudian jatuh di trotoar dengan posisi punggung terhantam. "Saat itu saya tidak pingsan, juga tidak gegar otak. Aman. Setelah periksa, langsung pulang," katanya. Tapi, semenjak kejadian itu dia sering mengalami sakit punggung. Minggu (26/1) ketika datang ke tempat gym di sebuah mal dia merasakan badannya panas. Padahal, dia belum memulai aktivitas kala itu. Deddy lalu meminta tolong temannya untuk dibelikan obat. Belum sempat minum obat, tubuhnya kejang dan panasnya semakin tinggi. Deddy kemudian pingsan. "Pas bangun, tangan saya bergetar dan jari menekuk. Bibir saya miring nggak bisa ngomong," ceritanya. Dia merasakan sakit luar biasa di seluruh badan. Anehnya, dia juga mengantuk. Salah seorang pengunjung gym itu seorang dokter. Deddy lantas diperiksa. "Kata dokter, saya kena hiperventilasi," ucapnya. Sambil menunggu ambulans, Deddy bertanya dengan susah payah mengapa dirinya sangat mengantuk. "Dokter itu bilang, Mas jangan tidur. Kalau tidur, nanti Mas Deddy koma, nggak bangun lagi," lanjutnya. Deddy shock. Belum lagi dia merasakan sakit luar biasa. Disentuh saja dia berteriak kesakitan. Setelah sampai rumah sakit, pihak dokter mengatakan untung dia tidak tertidur. Sebab, kalau tertidur, dia akan memasuki fase stroke dan koma. Setelah diperiksa denngan menggunakan MRA, diketahui bahwa itu semua disebabkan trauma kecelakaan lima tahun lalu. Sarafnya terjepit. Seharusnya dia bed rest dua minggu, lalu menjalani terapi dua bulan karena kaki kirinya belum bisa digunakan untuk berjalan. Tapi, bukan Deddy namanya kalau tidak keras kepala. Dia memilih pulang. Dia malah bikin terapi sendiri. "Saya tahu ini salah. Tapi, saya nggak mau berdiam diri. Kemarin saya tarik kaki saya ke atas, sambil mulut saya menggigit handuk. Sakit luar biasa. Tapi, setelah itu saya bisa berdiri pakai tongkat," katanya. (jan/c4/ayi)
DEDDYCorbuzier datang dengan menggunakan kursi roda ketika menghadiri konferensi pers soal penayangan kembali program Hitam Putih. Deddy baru saja mengalami gangguan kesehatan. Duda satu anak itu sempat masuk ICU Rumah Sakit International Bintaro karena saraf tulang ekornya terjepit. Deddy menuturkan, itu semua merupakan efek dari kecelakaan yang dialami lima tahun lalu. Ketika sedang berjalan kaki, dia ditabrak mobil hingga terlempar tiga kali, kemudian jatuh di trotoar dengan posisi punggung terhantam. "Saat itu saya tidak pingsan, juga tidak gegar otak. Aman. Setelah periksa, langsung pulang," katanya. Tapi, semenjak kejadian itu dia sering mengalami sakit punggung. Minggu (26/1) ketika datang ke tempat gym di sebuah mal dia merasakan badannya panas. Padahal, dia belum memulai aktivitas kala itu. Deddy lalu meminta tolong temannya untuk dibelikan obat. Belum sempat minum obat, tubuhnya kejang dan panasnya semakin tinggi. Deddy kemudian pingsan. "Pas bangun, tangan saya bergetar dan jari menekuk. Bibir saya miring nggak bisa ngomong," ceritanya. Dia merasakan sakit luar biasa di seluruh badan. Anehnya, dia juga mengantuk. Salah seorang pengunjung gym itu seorang dokter. Deddy lantas diperiksa. "Kata dokter, saya kena hiperventilasi," ucapnya. Sambil menunggu ambulans, Deddy bertanya dengan susah payah mengapa dirinya sangat mengantuk. "Dokter itu bilang, Mas jangan tidur. Kalau tidur, nanti Mas Deddy koma, nggak bangun lagi," lanjutnya. Deddy shock. Belum lagi dia merasakan sakit luar biasa. Disentuh saja dia berteriak kesakitan. Setelah sampai rumah sakit, pihak dokter mengatakan untung dia tidak tertidur. Sebab, kalau tertidur, dia akan memasuki fase stroke dan koma. Setelah diperiksa denngan menggunakan MRA, diketahui bahwa itu semua disebabkan trauma kecelakaan lima tahun lalu. Sarafnya terjepit. Seharusnya dia bed rest dua minggu, lalu menjalani terapi dua bulan karena kaki kirinya belum bisa digunakan untuk berjalan. Tapi, bukan Deddy namanya kalau tidak keras kepala. Dia memilih pulang. Dia malah bikin terapi sendiri. "Saya tahu ini salah. Tapi, saya nggak mau berdiam diri. Kemarin saya tarik kaki saya ke atas, sambil mulut saya menggigit handuk. Sakit luar biasa. Tapi, setelah itu saya bisa berdiri pakai tongkat," katanya. (jan/c4/ayi)
DEDDYCorbuzier datang dengan menggunakan kursi roda ketika menghadiri konferensi pers soal penayangan kembali program Hitam Putih. Deddy baru saja mengalami gangguan kesehatan. Duda satu anak itu sempat masuk ICU Rumah Sakit International Bintaro karena saraf tulang ekornya terjepit. Deddy menuturkan, itu semua merupakan efek dari kecelakaan yang dialami lima tahun lalu. Ketika sedang berjalan kaki, dia ditabrak mobil hingga terlempar tiga kali, kemudian jatuh di trotoar dengan posisi punggung terhantam. "Saat itu saya tidak pingsan, juga tidak gegar otak. Aman. Setelah periksa, langsung pulang," katanya. Tapi, semenjak kejadian itu dia sering mengalami sakit punggung. Minggu (26/1) ketika datang ke tempat gym di sebuah mal dia merasakan badannya panas. Padahal, dia belum memulai aktivitas kala itu. Deddy lalu meminta tolong temannya untuk dibelikan obat. Belum sempat minum obat, tubuhnya kejang dan panasnya semakin tinggi. Deddy kemudian pingsan. "Pas bangun, tangan saya bergetar dan jari menekuk. Bibir saya miring nggak bisa ngomong," ceritanya. Dia merasakan sakit luar biasa di seluruh badan. Anehnya, dia juga mengantuk. Salah seorang pengunjung gym itu seorang dokter. Deddy lantas diperiksa. "Kata dokter, saya kena hiperventilasi," ucapnya. Sambil menunggu ambulans, Deddy bertanya dengan susah payah mengapa dirinya sangat mengantuk. "Dokter itu bilang, Mas jangan tidur. Kalau tidur, nanti Mas Deddy koma, nggak bangun lagi," lanjutnya. Deddy shock. Belum lagi dia merasakan sakit luar biasa. Disentuh saja dia berteriak kesakitan. Setelah sampai rumah sakit, pihak dokter mengatakan untung dia tidak tertidur. Sebab, kalau tertidur, dia akan memasuki fase stroke dan koma. Setelah diperiksa denngan menggunakan MRA, diketahui bahwa itu semua disebabkan trauma kecelakaan lima tahun lalu. Sarafnya terjepit. Seharusnya dia bed rest dua minggu, lalu menjalani terapi dua bulan karena kaki kirinya belum bisa digunakan untuk berjalan. Tapi, bukan Deddy namanya kalau tidak keras kepala. Dia memilih pulang. Dia malah bikin terapi sendiri. "Saya tahu ini salah. Tapi, saya nggak mau berdiam diri. Kemarin saya tarik kaki saya ke atas, sambil mulut saya menggigit handuk. Sakit luar biasa. Tapi, setelah itu saya bisa berdiri pakai tongkat," katanya. (jan/c4/ayi)
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menginventarisir kebutuhan dana penanganan jalan nasional yang rusak akibat banjir dan tanah longsor di Indonesia mencapai Rp 2,12 triliun. Jumlah tersebut terbagi menjadi dana penanganan sementara senilai Rp 510,32 miliar dan dana penanganan permanen sebesar Rp 1,517 triliun. Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto menyampaikan hal tersebut pada Jumpa Pers mengenai Penanganan Jalan Nasional Pasca Banjir, kemarin (29/1) di Jakarta. "Dananya akan kita ambil dari dana pemeliharaan rutin yang sudah kita miliki, dan jika tidak mencukupi kita ambil dari pos dana mendesak," terang Djoko. Lebih lanjut dia mengatakan, estimasi dana tersebut didasarkan kebutuhan hingga Selasa (28/1). Sehingga sangat memungkinkan perkiraan jumlahnya akan meningkat. Djoko menjelaskan bahwa penanganannya sendiri baru dapat dilakukan pada saat air sudah surut dan kondisi aspal mulai mengering. "Untuk sementara ini, upaya yang dapat dilakukan baru sebatas menutupi lubang dengan material batuan untuk mengurangi bahaya," kata Djoko. Djoko menyebutkan, pihaknya mengkonsentrasikan perbaikan jalan nasional di jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa dan jalan di Manado, Sulawesi Utara. Selain itu, penanganan jalan juga dikerjakan pada Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data dari Ditjen Bina Marga, jumlah lubang di jalan Pantura ruas Banten hingga Jawa Barat mencapai 3.000 lubang yang tersebar sepanjang 25 kilometer. Sedangkan untuk Pantura ruas Jawa Tengah"Jawa Timur tercatat ada 4.000 lubang yang tersebar sepanjang 75 kilometer. Dia menuturkan bahwa sejumlah titik yang mendapat perhatiannya adalah ruas Karawang"Cikampek"Palimana n, ruas Pamanukan"Sewo"Lohbener, dan ruas jalan Kudus"Pati. "Intensitas hujan yang tinggi, ditambah perubahan iklim yang menaikkan tinggi muka air memang menambah beban jalan Pantura yang sudah sangat tinggi akibat besarnya volume lalu lintas,"ucap Djoko. Dia melanjutkan bahwa pihaknya masih berupaya menangani kerusakan jalan nasional melalui upaya tanggap darurat. Penanganan tersebut antara lain meliputi pemasangan rambu-rambu peringatan jalan berlubang serta membentuk tim untuk melakukan penutupan lubang. Sementara itu, banjir yang terjadi di Manado, Sulawesi Utara pada dua pekan lalu juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan. Penanganan mendesak antara lain untuk perbaikan jalan dan jembatan boulevard yang rusak pada wing wall dan plat injak sepanjang badan jalan. Djoko menambahkan, untuk ruas Manado"Tomohon ada 16 titik dari total 32 titik yang perlu segera mendapatkan penanganan. Perbaikan di sana dikerjakan dengan pemasangan jembatan bailey dan gorong-gorong. Selain itu, perbaikan juga dilakukan di ruas jalan Airmadidi"Tondano, ruas Manado"Tumpuaan, ruas Tomohon"Kawangkoan serta jalan Ring Road. Djoko Murjanto mengungkapkan bahwa untuk penanganan mendesak jalan dan jembatan di Manado pihaknya membutuhkan dana sebesar Rp 45 miliar. "Jumlah tersebut juga perlu didukung dengan anggaran tanggap darurat pasca bencana sebesar Rp 30 miliar," imbuhnya. (dod)
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menginventarisir kebutuhan dana penanganan jalan nasional yang rusak akibat banjir dan tanah longsor di Indonesia mencapai Rp 2,12 triliun. Jumlah tersebut terbagi menjadi dana penanganan sementara senilai Rp 510,32 miliar dan dana penanganan permanen sebesar Rp 1,517 triliun. Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto menyampaikan hal tersebut pada Jumpa Pers mengenai Penanganan Jalan Nasional Pasca Banjir, kemarin (29/1) di Jakarta. "Dananya akan kita ambil dari dana pemeliharaan rutin yang sudah kita miliki, dan jika tidak mencukupi kita ambil dari pos dana mendesak," terang Djoko. Lebih lanjut dia mengatakan, estimasi dana tersebut didasarkan kebutuhan hingga Selasa (28/1). Sehingga sangat memungkinkan perkiraan jumlahnya akan meningkat. Djoko menjelaskan bahwa penanganannya sendiri baru dapat dilakukan pada saat air sudah surut dan kondisi aspal mulai mengering. "Untuk sementara ini, upaya yang dapat dilakukan baru sebatas menutupi lubang dengan material batuan untuk mengurangi bahaya," kata Djoko. Djoko menyebutkan, pihaknya mengkonsentrasikan perbaikan jalan nasional di jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa dan jalan di Manado, Sulawesi Utara. Selain itu, penanganan jalan juga dikerjakan pada Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data dari Ditjen Bina Marga, jumlah lubang di jalan Pantura ruas Banten hingga Jawa Barat mencapai 3.000 lubang yang tersebar sepanjang 25 kilometer. Sedangkan untuk Pantura ruas Jawa Tengah"Jawa Timur tercatat ada 4.000 lubang yang tersebar sepanjang 75 kilometer. Dia menuturkan bahwa sejumlah titik yang mendapat perhatiannya adalah ruas Karawang"Cikampek"Palimana n, ruas Pamanukan"Sewo"Lohbener, dan ruas jalan Kudus"Pati. "Intensitas hujan yang tinggi, ditambah perubahan iklim yang menaikkan tinggi muka air memang menambah beban jalan Pantura yang sudah sangat tinggi akibat besarnya volume lalu lintas,"ucap Djoko. Dia melanjutkan bahwa pihaknya masih berupaya menangani kerusakan jalan nasional melalui upaya tanggap darurat. Penanganan tersebut antara lain meliputi pemasangan rambu-rambu peringatan jalan berlubang serta membentuk tim untuk melakukan penutupan lubang. Sementara itu, banjir yang terjadi di Manado, Sulawesi Utara pada dua pekan lalu juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan. Penanganan mendesak antara lain untuk perbaikan jalan dan jembatan boulevard yang rusak pada wing wall dan plat injak sepanjang badan jalan. Djoko menambahkan, untuk ruas Manado"Tomohon ada 16 titik dari total 32 titik yang perlu segera mendapatkan penanganan. Perbaikan di sana dikerjakan dengan pemasangan jembatan bailey dan gorong-gorong. Selain itu, perbaikan juga dilakukan di ruas jalan Airmadidi"Tondano, ruas Manado"Tumpuaan, ruas Tomohon"Kawangkoan serta jalan Ring Road. Djoko Murjanto mengungkapkan bahwa untuk penanganan mendesak jalan dan jembatan di Manado pihaknya membutuhkan dana sebesar Rp 45 miliar. "Jumlah tersebut juga perlu didukung dengan anggaran tanggap darurat pasca bencana sebesar Rp 30 miliar," imbuhnya. (dod)
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menginventarisir kebutuhan dana penanganan jalan nasional yang rusak akibat banjir dan tanah longsor di Indonesia mencapai Rp 2,12 triliun. Jumlah tersebut terbagi menjadi dana penanganan sementara senilai Rp 510,32 miliar dan dana penanganan permanen sebesar Rp 1,517 triliun. Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto menyampaikan hal tersebut pada Jumpa Pers mengenai Penanganan Jalan Nasional Pasca Banjir, kemarin (29/1) di Jakarta. "Dananya akan kita ambil dari dana pemeliharaan rutin yang sudah kita miliki, dan jika tidak mencukupi kita ambil dari pos dana mendesak," terang Djoko. Lebih lanjut dia mengatakan, estimasi dana tersebut didasarkan kebutuhan hingga Selasa (28/1). Sehingga sangat memungkinkan perkiraan jumlahnya akan meningkat. Djoko menjelaskan bahwa penanganannya sendiri baru dapat dilakukan pada saat air sudah surut dan kondisi aspal mulai mengering. "Untuk sementara ini, upaya yang dapat dilakukan baru sebatas menutupi lubang dengan material batuan untuk mengurangi bahaya," kata Djoko. Djoko menyebutkan, pihaknya mengkonsentrasikan perbaikan jalan nasional di jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa dan jalan di Manado, Sulawesi Utara. Selain itu, penanganan jalan juga dikerjakan pada Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data dari Ditjen Bina Marga, jumlah lubang di jalan Pantura ruas Banten hingga Jawa Barat mencapai 3.000 lubang yang tersebar sepanjang 25 kilometer. Sedangkan untuk Pantura ruas Jawa Tengah"Jawa Timur tercatat ada 4.000 lubang yang tersebar sepanjang 75 kilometer. Dia menuturkan bahwa sejumlah titik yang mendapat perhatiannya adalah ruas Karawang"Cikampek"Palimana n, ruas Pamanukan"Sewo"Lohbener, dan ruas jalan Kudus"Pati. "Intensitas hujan yang tinggi, ditambah perubahan iklim yang menaikkan tinggi muka air memang menambah beban jalan Pantura yang sudah sangat tinggi akibat besarnya volume lalu lintas,"ucap Djoko. Dia melanjutkan bahwa pihaknya masih berupaya menangani kerusakan jalan nasional melalui upaya tanggap darurat. Penanganan tersebut antara lain meliputi pemasangan rambu-rambu peringatan jalan berlubang serta membentuk tim untuk melakukan penutupan lubang. Sementara itu, banjir yang terjadi di Manado, Sulawesi Utara pada dua pekan lalu juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan. Penanganan mendesak antara lain untuk perbaikan jalan dan jembatan boulevard yang rusak pada wing wall dan plat injak sepanjang badan jalan. Djoko menambahkan, untuk ruas Manado"Tomohon ada 16 titik dari total 32 titik yang perlu segera mendapatkan penanganan. Perbaikan di sana dikerjakan dengan pemasangan jembatan bailey dan gorong-gorong. Selain itu, perbaikan juga dilakukan di ruas jalan Airmadidi"Tondano, ruas Manado"Tumpuaan, ruas Tomohon"Kawangkoan serta jalan Ring Road. Djoko Murjanto mengungkapkan bahwa untuk penanganan mendesak jalan dan jembatan di Manado pihaknya membutuhkan dana sebesar Rp 45 miliar. "Jumlah tersebut juga perlu didukung dengan anggaran tanggap darurat pasca bencana sebesar Rp 30 miliar," imbuhnya. (dod)